Tajin Sobih, Kuliner Kuno yang Tetap Nge-hits

Pojok Madura, 30 Juli 2025 (Moh. Faisol)

BANGKALAN – Sate dan bebek Madura memang juara, tapi bukan itu saja andalan kuliner Madura. Ada satu lagi yang nggak kalah legendaris: Tajin Sobih.

Kuliner satu ini berasal dari Desa Sobih, Kecamatan Burneh, Kabupaten Bangkalan. Tajin, dalam bahasa Madura, berarti bubur. Dan Tajin Sobih bukan sekadar bubur biasa, ini adalah sajian manis yang penuh nostalgia dan warna.

Isinya? Komplit banget! Ada bubur putih, bubur cokelat, bubur mutiara, klanting (atau cetter dalam bahasa lokal), lopes, siraman kuah santan gurih, dan guyuran gula merah cair yang manis legit. Perpaduan rasa dan teksturnya dijamin bikin nagih.

Salah satu penjual Tajin Sobih yang cukup legendaris bisa kamu temui di depan Stadion Bangkalan, atau perempatan Jalan Cokro. Namanya Bu Sumrah, usia 72 tahun, tapi semangatnya jualan masih luar biasa. Tiap pagi, mulai pukul 09.00 WIB, ia sudah menggelar dagangan dengan perlengkapan sederhana—beralaskan tikar dan membawa keranjang bambu.

Meski tanpa spanduk besar atau gerobak mencolok, dagangan Bu Sumrah selalu ramai. Pembeli bahkan rela antre untuk bisa mencicipi semangkuk Tajin Sobih hangat. Harganya? Super ramah di kantong cuma Rp 5.000 per porsi!

“Ini makanan khas Bangkalan. Sekarang sudah mulai langka, makanya saya terus jualan biar orang tetap ingat,” ujar Bu Sumrah.

Setiap hari, ia bisa menghabiskan 3 sampai 5 kilogram tajin. Tapi kalau belum habis sampai siang, ia tak sungkan berkeliling masuk gang-gang perumahan di sekitar Demangan dan Kraton.

“Kalau belum habis, saya keliling masuk kampung,” tuturnya sambil tersenyum.

Bagi Bu Sumrah, berjualan Tajin Sobih bukan hanya soal penghasilan, tapi juga soal menjaga warisan kuliner Madura agar tetap hidup. Lewat tangan-tangan sederhana sepertinya, rasa-rasa lama yang otentik bisa terus bertahan di tengah gempuran makanan kekinian. (*)

Share Artikel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel dilindungi, Semua tulisan dalam media ini sepenuhnya milih pojokmadura.id