Desak Keadilan, Keluarga Dinul Tuntut Penahanan Kades Geger
Muhammad Ilyas (tengah) bersama kuasa hukum (Foto: rusdi/PM)
Bangkalan (pojokmadura.id) – Sejumlah warga Desa Geger bersama keluarga terdakwa Muhammad Dinol Huda (MH) mendatangi Mapolres Bangkalan, Kamis (4/9/2025).
Mereka mempertanyakan proses hukum Kepala Desa Geger, Budiman. Sebab, hingga kini polisi belum menahanan meski sudah berstatus tersangka.
Menurut kuasa hukum Dinul, Bakhtiar Pradinata, jika Budiman tidak ditahan, ada kekhawatiran pihak keluarga karena bisa memengaruhi jalannya persidangan.
Sehingga, penahanan perlu dilakukan agar proses hukum berjalan objektif.
“Berkas tersangka Budiman sudah sempat dilimpahkan ke kejaksaan, tapi dikembalikan untuk dilengkapi (P19). Kami berharap penyidik segera menyempurnakan hingga P21 dan melakukan penahanan, supaya tidak ada intervensi ke saksi-saksi,” tegas Bakhtiar.
Pihak keluarga Dinul mengaku menerima informasi mengejutkan, Budiman disebut sempat mendatangi Rutan Bangkalan dan bertemu dengan terdakwa Busiri di luar jam besuk.
Hal ini diungkapkan langsung oleh Muhammad Ilyas, ayah Dinul. Saat menjenguk anaknya di rutan Bangkalan, Dinul bercerita bahwa ketika pulang dari sidang melihat Budiman dan beberapa orang masuk. Disaat bersamaan, Busiri tidak ada di kamarnya.
“Saat dicek, Busiri tidak ada di kamarnya. Kami menduga ada pertemuan khusus yang menyalahi aturan,” ungkap Ilyas dengan nada kecewa.
Sementara itu, Kasatreskrim Polres Bangkalan, AKP Hafid Dian Maulidi, menjelaskan bahwa berkas perkara Budiman masih dalam tahap penyempurnaan sesuai permintaan kejaksaan.
“Kami sudah mengirim berkas, tapi dikembalikan. Sekarang sedang kami lengkapi,” kata Hafid singkat.
Soal penahanan, Hafid enggan berkomentar banyak. Ia hanya menegaskan bahwa keluarga Dinul sudah diberi penjelasan dalam audiensi.
Kasus ini sendiri bermula dari insiden carok pada 28 April 2025. Persoalan sepele, hanya karena klakson sepulang hajatan, berubah menjadi pertarungan sengit.
Dinul dan Busiri saling bacok, keduanya terluka. Konflik makin panas ketika keluarga Dinul menyerbu Puskesmas Geger untuk mencari Busiri, hingga nyaris memicu bentrok massal.
Kini, keluarga Dinul merasa ada perlakuan berbeda terhadap Budiman.
Mereka mendesak agar hukum ditegakkan secara adil, tanpa pandang bulu, termasuk terhadap seorang kepala desa. [rus/red]