Ribuan Masyarakat Hadiri Tasyakuran Syaikhona Kholil Sebagai Pahlawan Nasional 

Sketsa Wajah Syaikhona Muhammad Kholil saat kirab penganugerahan gelar pahlawan nasional (foto: humas/PM)

Bangkalan (pojokmadura.id) — Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada ulama kharismatik asal Bangkalan, Madura, Syaikhona Muhammad Kholil, menjadi momen religius dan historis yang menyedot perhatian publik.

Kebahagiaan dan rasa syukur tampak jelas di wajah para kiai, santri, dan masyarakat yang memadati rangkaian acara tasyakuran bertema “Nyalase Agung Astah Syaikhona Muhammad Kholil”. 

Perayaan ini bukan sekadar seremoni, tetapi penanda pengakuan negara atas jasa besar ulama yang jejak perjuangannya telah mencetak banyak tokoh bangsa.

Tasyakuran dimulai dengan kirab dan lalaran Alfiyah yang diikuti para santri dari Pondok Pesantren Syaikhona Muhammad Kholil menuju Masjid Syaikhona Kholil Martajesah, Kamis (20/11/2025) sore. 

Suasana religius terasa kental ketika para peserta melantunkan bait-bait Alfiyah sepanjang perjalanan.

Acara kemudian dilanjutkan dengan doa bersama serta pemaparan mengenai karya, ketokohan, dan keilmuan Syaikhona Kholil yang digelar hingga malam hari di halaman masjid.

Gelar Pahlawan Nasional untuk Syaikhona Muhammad Kholil ditetapkan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, nomor 116/TK/Tahun 2025 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional. 

Gelar ini diberikan atas jasa beliau dalam perjuangan pendidikan Islam serta kontribusinya dalam membentuk karakter kebangsaan melalui pesantren.

KH. Makki Nasir, mewakili durriyah (keluarga besar) Syaikhona Kholil, menyampaikan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto dan semua pihak yang mendukung proses pengusulan gelar tersebut.

Ra Makki menyampaikan bahwa banyak pihak yang mempertanyakan karena Syaikhona Kholil tidak butuh gelar, dan sudah besar tanpa gelar.

“Hal ini kami lakukan bukan dalam rangka mecari gelar, tapi sebagi upaya untuk lebih maksimal dalam menggali, memperdalam dan menemukan warisan yang sangat dibutuhkan akhir-akhir ini,” jelasnya. 

Ia menegaskan bahwa Syaikhona Kholil adalah ulama besar yang telah mencetak tokoh-tokoh penting dalam perjalanan bangsa, termasuk KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama’ (NU)

Dalam acara tasyakuran tersebut, dipamerkan sketsa wajah Syaikhona Muhammad Kholil. 

KH. Makki menjelaskan bahwa upaya mencari foto asli Syaikhona Kholil hingga ke Belanda tidak membuahkan hasil.

“Ini bukan foto asli, melainkan sketsa yang dijadikan syarat administratif dalam pengusulan gelar Pahlawan Nasional. Salah satu karomah beliau adalah tidak bisa difoto,” terangnya.

Bupati Bangkalan, Lukman Hakim, turut menyampaikan rasa bangga atas penganugerahan ini. 

Ia berharap penghormatan negara kepada Syaikhona Kholil dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda.

“Semoga keteladanan, keilmuan, dan keteguhan perjuangan beliau menjadi cahaya bagi perjalanan anak-anak muda Bangkalan dan Indonesia,” ujarnya.

Syaikhona Muhammad Kholil dikenal sebagai ulama berwawasan luas, ahli dalam berbagai disiplin ilmu, dan pengasuh ribuan santri dari berbagai penjuru Nusantara. 

Ia memainkan peran penting dalam membangun semangat perjuangan para ulama dan santri pada masa penjajahan melalui pendidikan pesantren, pembinaan karakter, dan pendekatan spiritual.

Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional ini menjadi penegasan bahwa warisan beliau tidak hanya hidup melalui karya dan murid-muridnya, tetapi juga tercatat sebagai bagian penting dari sejarah perjalanan bangsa Indonesia. [rus/red]

Share Artikel

Artikel dilindungi, Semua tulisan dalam media ini sepenuhnya milih pojokmadura.id