Revitalisasi Alun-Alun Bangkalan, IAI Jatim Paparkan Tiga Desain

Beberapa orang terlihat mengamati dan berdiskusi mengenai konsep dan desain revitalisasi alun-alun Bangkalan di halaman Pendopo Agung Bangkalan (foto: rusdi/PM)

Bangkalan (pojokmadura.id) — Rencana revitalisasi Alun-Alun Bangkalan mulai memantik rasa penasaran publik. 

Pemerintah Kabupaten Bangkalan tak ingin setengah-setengah, mereka menggandeng Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jawa Timur untuk merumuskan desain wajah baru jantung kota tersebut.

Pendopo Agung Bangkalan berubah menjadi ruang kreatif, pada Minggu (7/12/2025).

IAI Jatim menggelar pameran dan workshop terbuka, menampilkan tiga konsep desain alun-alun yang digarap oleh tiga kelompok arsitek muda Jawa Timur.

Setiap kelompok secara bergantian mempresentasikan desain dan lanskap yang mereka nilai paling sesuai dengan karakter masyarakat Bangkalan.

Tak hanya pejabat dan arsitek, warga pun diberi panggung. IAI Jatim menyiapkan video pendek berisi simulasi fasilitas alun-alun masa depan. 

Video itu akan diputar selama sepekan penuh di halaman Pendopo Agung agar masyarakat bisa melihat, menilai, dan memberi masukan.

Bupati Bangkalan, Lukman Hakim, menegaskan bahwa revitalisasi alun-alun bukan sekadar proyek fisik, tetapi bagian dari upaya pembangunan kolaboratif.

“Saya ingin semua pihak terlibat. Jadi bukan hanya alun-alun, tapi semua pembangunan di Bangkalan harus punya konsep yang matang,” kata Bupati.

Ia menegaskan bahwa tahapan pembangunan akan disesuaikan kemampuan anggaran.

“Kalau baru bisa di trotoar, ya trotoarnya dulu. Kalau jogging track-nya dulu, ya itu yang kita mulai,” ujarnya.

Ia bahkan membuka peluang kerja sama dengan pihak swasta, terutama untuk area kuliner, ruang aktivitas, hingga fasilitas olahraga.

Bupati juga mengingatkan bahwa alun-alun punya nilai sejarah sehingga harus dirancang dengan mempertimbangkan pandangan tokoh agama, budayawan, dan pemerhati lingkungan.

“Teman-teman arsitek sudah wawancara para kiai, budayawan, melihat karakter masyarakat Bangkalan. Itu jadi dasar konsep,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua IAI Jawa Timur, Ar. Fafan Tri Afandy, menjelaskan bahwa workshop ini sudah berlangsung sejak awal November. 

Melalui pembekalan, diskusi, hingga empat kali review, sehingga lahir tiga desain final yang kini dipamerkan.

“Hari ini pemaparan final kepada Bupati dan Forkopimda, sekaligus kami persembahkan kepada masyarakat Bangkalan,” ujar Fafan.

Tiga desain ini sepenuhnya diserahkan kepada Pemkab Bangkalan apakah akan direalisasikan, digunakan sebagian, atau dikembangkan lebih lanjut.

“IAI tidak boleh berproyek. Tugas kami hanya sampai desain dan pendampingan. Untuk eksekusi, sepenuhnya kewenangan pemerintah,” jelasnya.

Fafan juga menyebut IAI menggandeng Asosiasi Arsitek Lanskap Indonesia (IALI) Jawa Timur, serta melibatkan peserta dari berbagai kampus di Jatim.

Meski tidak bisa terjun sebagai pelaksana, Fafan membuka pintu jika pemkab membutuhkan ruang konsultasi.

“Selama bukan dalam konteks proyek, kami siap mendampingi,” ujarnya.

Dengan tiga desain arsitektur dan lanskap yang kini terbuka untuk dinilai publik, bola kini berada di tangan Pemkab Bangkalan. 

Proses partisipatif ini digadang-gadang bisa mencegah salah desain dan membuat alun-alun kelak benar-benar mencerminkan karakter Kota Dzikir dan Shalawat. [rus/red]

Share Artikel

Artikel dilindungi, Semua tulisan dalam media ini sepenuhnya milih pojokmadura.id