Menteri Kebudayaan Resmikan Museum Budaya Madura di UTM

Dr. Fadli Zon, M.Sc Menteri Kebudayaan Republik Indonesia saat melihat koleksi di museum budaya madura di UTM (foto: humas/PM)

Bangkalan (pojokmadura.id)Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, melakukan kunjungan kerja ke Pulau Madura dengan agenda penguatan pelestarian budaya lokal. 

Dalam kunjungan tersebut, Fadli Zon meresmikan Museum Budaya Madura sekaligus menghadiri Kongres Budaya Madura bertema “Glokalisasi Madura, Mengakar di Madura Berdampak untuk Dunia”, yang digelar di Kampus Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Senin (22/12/2026).

Selain peresmian museum, Fadli Zon juga menyampaikan orasi ilmiah kepada mahasiswa dan civitas akademika di Gedung Pertemuan R.P. Mohammad Noer UTM. 

Ia memaparkan pentingnya kebudayaan nasional sebagai fondasi karakter bangsa di tengah arus globalisasi.

Kegiatan tersebut turut dihadiri budayawan nasional K.H. D. Zawawi Imron, Anggota DPR RI Hasani Zubeir, Bupati Bangkalan Lukman Hakim, serta para akademisi, seniman, dan budayawan Madura.

Fadli Zon menegaskan bahwa kebudayaan tidak boleh dipersempit hanya pada kesenian, tarian, atau permainan tradisional semata. 

Menurutnya, kebudayaan juga mencakup nilai, perilaku, cara berpikir, serta jati diri masyarakat.

“Museum bukan sekadar tempat menyimpan artefak, tetapi harus menjadi pusat belajar, edukasi, dan ruang dialog budaya,” ujarnya.

Politisi Partai Gerindra itu mengapresiasi inisiatif UTM yang dinilainya memiliki peran strategis dalam menjaga dan mengembangkan budaya Madura melalui pendekatan akademik.

“Kegiatan seperti ini sangat penting. Kementerian Kebudayaan ingin menyampaikan visi, misi, dan strategi kebudayaan langsung kepada civitas akademika, seniman, dan budayawan,” kata Fadli.

Ia menyoroti kekayaan budaya Madura yang sangat beragam, mulai dari bahasa, seni tari, tradisi, hingga karya tosan aji. 

Fadli berharap Museum Budaya Madura yang baru diresmikan dapat terus berkembang, baik dari sisi koleksi maupun fungsi edukasinya.

“Langkah awal sudah sangat baik. Ke depan, museum ini diharapkan semakin besar dan kaya akan artefak serta ekspresi budaya Madura,” tambahnya.

Fadli Zon juga menyinggung pentingnya pengusulan resmi Trunojoyo sebagai pahlawan nasional. 

Menurutnya, tokoh besar Madura tersebut layak mendapatkan pengakuan negara.

“Trunojoyo adalah tokoh besar dalam sejarah, tetapi belum ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Usulan resmi harus segera diajukan, dengan dukungan pemerintah daerah, UTM, komunitas sejarah, ulama, dan tokoh masyarakat,” tegasnya.

Sementara itu, Rektor UTM Prof. Dr. Safi’ menyampaikan bahwa peresmian museum merupakan bagian dari komitmen kampus untuk ikut menjaga warisan budaya Madura. 

Meski ruang dan koleksi masih terbatas, antusiasme masyarakat sangat tinggi.

“Banyak budayawan yang secara sukarela menghibahkan lukisan, benda bersejarah, dan karya budaya untuk museum ini,” ungkapnya.

Prof. Safi’ juga menyampaikan aspirasi masyarakat agar UTM membuka Program Studi Bahasa Madura. 

Menurutnya, gagasan tersebut sudah ada, namun masih membutuhkan dukungan kebijakan dari pemerintah pusat.

“Bahasa Madura bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga memiliki kekayaan seni dan sastra. Perlu kebijakan agar lulusan pendidikan bahasa Madura memiliki prospek dan ruang pengabdian yang jelas,” jelasnya.

Melalui Kongres Budaya dan peresmian Museum Budaya Madura ini, UTM berharap budaya Madura semakin dikenal luas, tidak hanya di tingkat lokal dan nasional, tetapi juga di panggung dunia.

Kolaborasi antara masyarakat, akademisi, dan pemerintah diharapkan mampu memperkuat posisi Madura sebagai pusat kebudayaan yang memberi kontribusi nyata bagi peradaban global. [rus/red]

Share Artikel

Artikel dilindungi, Semua tulisan dalam media ini sepenuhnya milih pojokmadura.id