Manusia Merdeka atau Dikendalikan Sistem?
Oleh: MOH. AL FAROBY Mahasiswa Institut Bahri Asyiq Bangkalan (INSTIBA)
Filsafat modern lahir dari satu semangat besar: pembebasan manusia. Ia muncul sebagai kritik terhadapotoritas tradisi, dogma, dan kekuasaan absolut yang mengekang kebebasan berpikir manusia pada Abad Pertengahan.
Tokoh-tokoh seperti René Descartes, John Locke, hingga Immanuel Kant menempatkan manusia sebagaisubjek rasional makhluk yang memiliki kemampuan berpikir, menentukan pilihan, dan bertanggungjawab atas tindakannya sendiri.
Modernitas menjanjikan kemerdekaan, otonomi, dan kemajuan. Namun, di tengah realitas kehidupan hari ini, muncul sebuah pertanyaan mendasar yang tidak mudah dijawab: apakah manusia modern benar-benar merdeka, atau justru semakin dikendalikan oleh sistem yang ia ciptakan sendiri?
Pertanyaan ini menjadi relevan ketika kita melihat bagaimana kehidupan manusia saat ini berjalan di bawah pengaruh sistem yang begitu kompleks: sistem ekonomi global, sistem birokrasi negara, sistem teknologi digital, hingga sistem budaya populer. Manusia seolah memiliki banyak pilihan, tetapi pilihan-pilihan itu sering kali sudah diarahkan, dibatasi, bahkan dikondisikan oleh sistem tertentu. Di sinilah paradoks modernitas muncul: semakin modern manusia, semakin ia merasa bebas, tetapi pada saat yang sama semakin ia terikat.
Dalam pandangan filsafat modern, kemerdekaan manusia berakar pada rasionalitas. Descartes, sebagai pelopor filsafatmodern, menyatakan cogito ergo sum (aku berpikir, maka aku ada). Pernyataan ini bukan sekadar slogan filosofis, melainkan penegasan bahwa eksistensi manusia ditentukan oleh kemampuan berpikirnya secara sadar dan reflektif.
Manusia dianggap merdeka sejauh ia mampu menggunakan akalnya sendiri, bukan sekadar mengikuti otoritas luar. Namun, pertanyaannya: apakah manusia modern hari ini masih benar-benar berpikir?
Di era digital, manusia dibanjiri oleh informasi dalam jumlah yang luar biasa. Media sosial, mesin pencari, dan platform digital menyajikan data, opini, dan narasi secara terus-menerus. Sekilas, kondisi ini tampak mendukung kebebasan berpikir. Namun, di balik itu, terdapat mekanisme algoritma yang bekerja secara senyap menentukan informasi apa yang layak kita lihat, pendapat mana yang sering muncul, dan wacana apa yang dianggap penting. Tanpa disadari, cara berpikir manusia modern perlahan dibentuk oleh sistem digital, bukan oleh refleksi rasional yang mendalam.
Immanuel Kant, dalam esainya Was ist Aufklärung? (Apa itu Pencerahan?), menegaskan bahwa manusia merdeka adalah manusia yang berani menggunakan akalnya sendiri (sapere aude).
Pencerahan, menurut Kant, adalah keluarnya manusia dari ketidakdewasaan yang ditimbulkan oleh ketergantungan pada pihak lain. Namun, manusia modern justru menunjukkan bentuk ketidakdewasaan baru: ketergantungan pada sistem. Ketika manusia lebih percaya pada algoritma dari pada pertimbangan moralnya sendiri, ketika opini publik lebih menentukan kebenaran dari pada akalbudi, maka kemerdekaan yang dijanjikan modernitas mulai kehilangan maknanya.
Kemerdekaan dalam konteks modern sering direduksi menjadi kebebasan memilih. Kita bebas memilih pekerjaan, gaya hidup, bahkan identitas diri. Namun, filsafat modern mengingatkan bahwa kebebasan sejati bukan sekadar banyaknya pilihan, melainkan kemampuan memilih secara sadar dan bertanggung jawab.
Dalam sistem ekonomi kapitalistis, misalnya, manusia didorong untuk terus bekerja, berproduksi, dan mengonsumsi. Kesuksesan diukur dengan materi, produktivitas, dan status sosial. Pilihan-pilihan yang tersedia sering kali tidak netral, melainkan dibentuk oleh kepentingan pasar. Akibatnya, manusia tampak bebas, tetapi sesungguhnya bergerak dalam kerangka sistem yang sudah ditentukan.
Karl Marx, meskipun sering dikategorikan sebagai filsuf modern-kritis, memberikan kritik tajam terhadap sistem ekonomi modern. Menurut Karl Marx, dalam sistem kapitalisme, manusia mengalami alienasi keterasingan dari dirinya sendiri, dari pekerjaannya, dan dari sesama manusia. Pekerja tidak lagi bekerja untuk mengekspresikan potensi dirinya, melainkan semata-mata untuk memenuhi tuntutan sistem produksi. Dalam kondisi seperti ini, kemerdekaan manusia menjadi ilusi. Ia hidup, bekerja, dan berpikir sesuai dengan logika sistem, bukan berdasarkan nilai kemanusiaan.
Sistem tidak hanya hadir dalam bentuk ekonomi, tetapi juga dalam bentuk birokrasi dan hukum. Max Weber menggambarkan masyarakat modern sebagai “kerangkeng besi” rasionalitas instrumental. Segala sesuatu diatur berdasarkan efisiensi, prosedur, dan aturan formal. Rasionalitas yang seharusnya membebaskan manusia justru berubah menjadi alat kontrol. Manusia diperlakukan sebagai bagian dari mesin sosial yang harus berjalan sesuai aturan. Dalam konteks ini, kebebasan sering kali dikorbankan demi keteraturan dan stabilitas.
Namun, kontrol sistem yang paling halus dan efektif justru terjadi dalam ranah budaya dan kesadaran. Michel Foucault menunjukkan bahwa kekuasaan modern tidak lagi bekerja melalui paksaan fisik, melainkan melalui normalisasidan disiplin. Manusia diawasi, dinilai, dan dikategorikan secara terus-menerus, hingga akhirnya menginternalisasi kontrol tersebut. Sistem tidak lagi memaksa dari luar, tetapi bekerja dari dalam kesadaran manusia. Manusia merasa bebas, padahal tindakannya sudah sesuai dengan norma sistem.
Dalam situasi seperti ini, muncul pertanyaan kritis: di manakah letak kemerdekaan manusia modern? Apakah kemerdekaan masih mungkin diwujudkan, ataukah manusia telah sepenuhnya menjadi objek sistem?
Filsafat modern tidak menutup mata terhadap bahaya ini. Justru, ia mengajak manusia untuk kembali pada inti kemanusiaannya: kesadaran diri, rasionalitas kritis, dan tanggung jawab moral.
Kant menegaskan bahwa manusia merdeka adalah manusia yang bertindak berdasarkan hukum moral yang ia sadari sendiri, bukan semata-mata karena tekanan eksternal. Dengan kata lain, kemerdekaan tidak terletak pada ketiadaan aturan, melainkan pada kemampuan manusia untuk memahami dan menilai aturan tersebut secara rasional.
Kemerdekaan juga menuntut keberanian untuk bersikap kritis terhadap sistem. Manusia modern tidak mungkin sepenuhnya keluar dari sistem, karena sistem adalah bagian dari kehidupan sosial. Namun, manusia dapat memilih untuk tidak larut secara pasif di dalamnya. Sikap kritis, reflektif, dan etis menjadi kunci agar manusia tetap menjadi subjek, bukan objek.
Pendidikan memiliki peran penting dalam konteks ini. Jika pendidikan hanya berorientasi pada keterampilan teknis dan kebutuhan pasar, maka ia akan melahirkan manusia-manusia yang cakap secara teknologis, tetapi rapuh secara filosofis. Filsafat modern mengingatkan bahwa tujuan pendidikan sejati adalah membentuk manusia yang mampuberpikir mandiri, bukan sekadar menyesuaikan diri dengan sistem.
Pada akhirnya, muncul pertanyaan “manusia merdeka atau dikendalikan sistem?” bukanlah pertanyaan yang dapat dijawab secara sederhana. Manusia modern berada dalam kondisi ambivalen: ia memiliki potensi kemerdekaan yang besar, tetapi juga menghadapi risiko kontrol sistem yang semakin kuat. Kemerdekaan bukan sesuatu yang otomatis hadir dalam modernitas, melainkan sesuatu yang harus terus diperjuangkan.
Filsafat modern mengajarkan bahwa kemerdekaan manusia tidak terletak pada penolakan total terhadap sistem, melainkan pada kesadaran kritis dalam menghadapinya. Selama manusia masih mau berpikir, mempertanyakan, dan bertindak berdasarkan nilai kemanusiaan, selama itu pula kemerdekaan masih mungkin diwujudkan. Sebaliknya, ketika manusia menyerahkan akalnya sepenuhnya kepada sistem, entah itu teknologi, pasar, atau opini mayoritas maka saat itulah kemerdekaan berubah menjadi ilusi.
Dengan demikian, manusia modern dihadapkan pada pilihan eksistensial: menjadi subjek yang sadar dan merdeka, atau menjadi bagian dari sistem yang berjalan tanpa refleksi. Filsafat modern tidak memaksa jawaban, tetapi menawarkan kesadaran: bahwa menjadi manusia merdeka adalah sebuah perjuangan, bukan keadaan yang selesai sekali jadi.