Dari Bangkalan, Gus Yahya: Roh NU Harus Terus Hidup
Ketua Umum PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf (berkacamata) bersama dzurriyah Syaikhona Mohammad Kholil saat pelepasan napak tilas isyaroh pendirian NU di halaman Ponpes Syaikhona Kholil Bangkalan (Foto: Rusdi/PM)
Bangkalan (Pojokmadura.id) — Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Yahya Cholil Staquf menegaskan bahwa Napak Tilas Isyaroh Pendirian Nahdlatul Ulama (NU) merupakan momentum sakral bagi seluruh warga NU untuk kembali mengambil berkah sekaligus meneguhkan roh jam’iyah yang diwariskan para pendiri.
Hal itu disampaikan Gus Yahya saat menghadiri pembukaan Napak Tilas Isyaroh Pendirian NU yang digelar di halaman Pondok Pesantren Syaikhona Mohammad Kholil, Bangkalan, Madura, Minggu (4/1/2026) pagi.
“Kegiatan napak tilas isyaroh pendirian Jam’iyah Nahdlatul Ulama ini adalah momentum bagi kita semua, segenap warga NU, untuk kembali mengambil berkah dari peristiwa yang sakral dan penuh keberkahan,” ujar Gus Yahya.
Rangkaian kegiatan diawali dengan prosesi pelepasan dan penyerahan tongkat serta tasbih oleh Pengasuh Ponpes Syaikhona Mohammad Kholil Bangkalan, RKH. Fahruddin Aschal kepada Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, KHR. Ach. Azaim Ibrahimy.
Prosesi tersebut berlangsung khidmat sekitar pukul 06.00 WIB dan disaksikan para ulama serta jajaran pengurus PBNU.
Menurut Gus Yahya, napak tilas ini menghidupkan kembali peristiwa bersejarah saat isyaroh pendirian NU disampaikan oleh Syaikhona Muhammad Kholil bin Abdul Latif Bangkalan melalui KH. As’ad Syamsul Arifin kepada KH. Hasyim Asy’ari.
“Di dalam peristiwa itu ada warisan besar Nahdlatul Ulama. Karena itu, napak tilas ini menjadi pengingat bagi kita semua tentang roh Jam’iyah NU yang harus terus kita jaga dan kita hidupi selama-lamanya,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Napak Tilas, KH. Imam Bukhori Kholil menjelaskan bahwa jumlah peserta dibatasi maksimal 1.000 orang.
Para peserta mengiringi KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy berjalan kaki dari Pondok Pesantren Syaikhona Mohammad Kholil menuju Pelabuhan Kamal, Bangkalan.
“Dari Kamal, rombongan menyeberang dengan kapal nelayan menuju Tanjung Perak Surabaya,” jelasnya.
Setibanya di Surabaya, peserta melanjutkan perjalanan ke Makam Sunan Ampel untuk berziarah dan berdoa.
Rombongan kemudian menuju Kantor PCNU Bubutan yang merupakan kantor NU pertama pada masa KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Hasan Gipo.
Dari sana, perjalanan dilanjutkan ke Stasiun Gubeng untuk naik kereta menuju Stasiun Jombang.
“Dari Stasiun Jombang, peserta kembali berjalan kaki menuju Pondok Pesantren Tebuireng untuk berziarah ke maqbarah KH. Hasyim Asy’ari,” imbuh KH. Imam Bukhori.
Gus Yahya berharap, melalui napak tilas ini NU semakin kuat, semakin maslahat, dan semakin lestari sebagai jam’iyah yang membawa keberkahan bagi umat, bangsa, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Semoga dengan berkah para muassis, NU terus menjadi sumber keselamatan dan kemaslahatan bagi masa depan seluruh umat Indonesia,” pungkasnya. [Rusdi]