
Bangkalan, pojokmadura.id – Suasana hangat menyelimuti kegiatan Welcome To Maba (WTM) Ikatan Mahasiswa Sumatera Universitas Trunojoyo Madura (IKAMASU UTM). Tidak sekadar menjadi agenda penyambutan mahasiswa baru asal Sumatera, kegiatan ini terasa istimewa karena dihadiri langsung oleh Rektor Universitas Trunojoyo Madura, Prof. Dr. Safi’, S.H., M.H., bersama Wakil Rektor III UTM, Surokim, S.Sos., S.H., M.Si.
Kehadiran jajaran pimpinan universitas tersebut menjadi perhatian tersendiri bagi para mahasiswa baru yang datang dari berbagai daerah di Sumatera dan sekitarnya. Presiden Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura, Mahrus Ali, juga turut hadir dalam kegiatan tersebut.
WTM IKAMASU UTM diselenggarakan sebagai ruang penyambutan sekaligus penguatan rasa kekeluargaan bagi mahasiswa baru asal Sumatera yang kini harus menempuh pendidikan jauh dari daerah asalnya. Bagi mereka, memasuki lingkungan baru di Pulau Madura bukan hanya tentang memulai perkuliahan, tetapi juga beradaptasi dengan budaya, lingkungan, dan kehidupan sosial yang berbeda.
Dalam sambutannya, Rektor UTM Prof. Dr. Safi’ menyampaikan ucapan selamat datang kepada mahasiswa baru asal Sumatera. Ia juga memberikan motivasi kepada para mahasiswa agar tetap percaya diri menjalani kehidupan sebagai perantau sekaligus memanfaatkan kesempatan selama menempuh pendidikan di UTM.
Momen tersebut semakin istimewa ketika Rektor menyampaikan bahwa WTM IKAMASU menjadi kegiatan mahasiswa yang secara khusus ia hadiri langsung dalam rangkaian momentum PKKMB tahun ini.
“Inilah istimewanya teman-teman IKAMASU UTM. Untuk pertama kalinya di momen PKKMB tahun ini, acara teman-teman IKAMASU adalah acara satu-satunya yang saya datangi secara langsung,” ujar Rektor di hadapan mahasiswa.
Pernyataan tersebut mendapat sambutan positif dari mahasiswa yang hadir. Terlebih, Rektor datang bersama Wakil Rektor III UTM sehingga kehadiran pimpinan universitas dinilai memberikan kesan tersendiri bagi mahasiswa perantau.
Bagi mahasiswa baru, perhatian dari pihak kampus menjadi energi positif untuk memulai kehidupan akademik di Universitas Trunojoyo Madura.
Salah seorang mahasiswa baru tahun 2026 mengungkapkan bahwa keterlibatan pimpinan universitas dalam kegiatan tersebut membuat mahasiswa asal luar Pulau Madura merasa lebih diterima.
Menurutnya, kehadiran pihak rektorat memberikan rasa percaya diri sekaligus keyakinan bahwa mahasiswa perantau tetap mendapatkan perhatian yang sama selama berada di lingkungan UTM. Bagi mereka yang harus meninggalkan keluarga dan menempuh perjalanan jauh dari Sumatera menuju Madura, sambutan tersebut memiliki makna tersendiri.
Ulos Jadi Simbol Persaudaraan Sumatera dan Madura
Tidak hanya diisi dengan sambutan dan motivasi, WTM IKAMASU UTM juga menghadirkan momentum pertukaran cenderamata.
Pada akhir kegiatan, Rektor Universitas Trunojoyo Madura menyerahkan cenderamata kepada IKAMASU UTM. Sebaliknya, panitia memberikan ulos kepada Rektor sebagai bentuk penghormatan.
Ulos merupakan salah satu warisan budaya yang sangat lekat dengan masyarakat Sumatera, khususnya tradisi masyarakat Batak. Dalam momentum WTM tersebut, pemberian ulos menjadi simbol penghormatan sekaligus harapan agar hubungan kekeluargaan antara mahasiswa asal Sumatera dan keluarga besar Universitas Trunojoyo Madura terus terjalin.
Pertukaran cenderamata itu sekaligus memperlihatkan bagaimana kehidupan kampus dapat menjadi ruang perjumpaan berbagai latar belakang budaya.
122 Mahasiswa Baru Asal Sumatera
Berdasarkan catatan administrasi IKAMASU UTM, jumlah mahasiswa baru Universitas Trunojoyo Madura yang berasal dari Sumatera dan sekitarnya pada tahun 2026 mencapai 122 orang.
Jumlah tersebut sekaligus menunjukkan bahwa UTM menjadi salah satu tujuan pendidikan tinggi bagi mahasiswa yang datang dari luar Pulau Jawa dan Madura.
Melalui WTM, IKAMASU UTM tidak hanya memperkenalkan organisasi kepada mahasiswa baru, tetapi juga berupaya menyediakan ruang kekeluargaan bagi mahasiswa rantau agar lebih mudah beradaptasi dengan kehidupan kampus.
Kehadiran langsung Rektor dan Wakil Rektor III UTM dalam kegiatan tersebut pun menjadi pesan kuat bahwa perbedaan daerah asal bukan penghalang untuk tumbuh bersama dalam satu lingkungan akademik.
Dari Sumatera menuju Madura, perjalanan para mahasiswa baru itu kini memasuki babak baru. Bukan hanya mengejar gelar akademik, tetapi juga membangun jejaring, mengenal budaya baru, dan membawa identitas daerahnya menjadi bagian dari keberagaman Universitas Trunojoyo Madura. [Rusdi]
Leave a Reply