Enam Santri Tewas di Kubangan Air Bekas Tambang Galian C Bukit Jaddih

Petugas evakuasi enam santri tewas di kubangan air bekas galian c kawasan bukit jaddih (foto: SS/PM)

Bangkalan (pojokmadura.id) – Kawasan bukit kapur Jaddih Desa Parseh, Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan berubah menjadi duka mendalam, ketika enam anak ditemukan tewas tenggelam di kubangan air bekas tambang galian C, Kamis (20/11/2025) sore kemarin.

Tragedi ini kembali menyibak luka lama tentang buruknya pengawasan kawasan bekas tambang yang dibiarkan terbuka tanpa pengamanan, hingga akhirnya merenggut enam nyawa sekaligus, lima di antaranya adalah santri.

Genangan besar itu terbentuk dari cekungan bekas galian yang sudah lama tidak beroperasi dan kini dimanfaatkan sebagai tempat produksi batu bata putih. 

Hujan deras beberapa hari terakhir membuat lubang tersebut terisi air hingga sedalam belasan meter, menjadikannya perangkap mematikan bagi siapa pun yang melintas atau bermain di sekitarnya.

Kasi Humas Polres Bangkalan, Ipda Agung Intama, menjelaskan bahwa satu korban merupakan warga Desa Parseh, sementara lima lainnya adalah santri asal Surabaya yang mondok di Pondok Pesantren Jabal Qur’an, berjarak sekitar 700 meter dari lokasi kejadian. 

“Diduga salah satu anak terpeleset ke titik terdalam, dan lima temannya yang mencoba menolong ikut terperosok lalu tenggelam,” ujarnya.

Warga yang melihat sejumlah barang anak-anak mengambang segera melapor ke aparat desa sebelum petugas Polres Bangkalan tiba bersama relawan untuk melakukan pencarian. 

Seluruh korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia dan langsung dievakuasi ke puskesmas terdekat.

Bekas tambang galian C di Dusun Keseman tersebut sebetulnya telah lama tidak aktif. Namun tanpa upaya reklamasi, lubang-lubang besar tersisa begitu saja dan kerap berubah menjadi kolam berbahaya setiap kali hujan. 

Tanpa pagar, tanpa rambu, dan tanpa pengawasan, lokasi itu selama bertahun-tahun menjadi ancaman senyap bagi warga sekitar.

Polisi mengimbau masyarakat untuk tidak mendekati area serupa, terutama saat musim hujan. 

“Kubangan bekas tambang sering tampak dangkal padahal sangat dalam. Kami minta para orang tua dan pengelola lingkungan lebih waspada,” tegas Ipda Agung.

Adapun nama-nama korban tragedi Bukit Jaddih adalah:

  1. Louvin Al Baru (9), asal Sambikerep, Surabaya
  2. Salman Al Farisi (9), asal AStapah, Kabupaten Sampang
  3. Rosyid Inul Yakin (10), asal Tambak Dalem, Surabaya
  4. Reynand Azka Mahardika (9), asal Sambikerep, Surabaya
  5. Moh Nasiruddin Adrai (9) asal Panggung, Sidoarjo
  6. Muhammad Akhtar Muzain Ainul Izzi (7), Kalimas Surabaya / Desa Parseh, Kecamatan Socah.

[rus/red]

Share Artikel

Artikel dilindungi, Semua tulisan dalam media ini sepenuhnya milih pojokmadura.id