Kuliah Umum di UTM, Mahfud MD: Saatnya Kualitas SDM Madura Naik Kelas

Kuliah umum: Prof. Dr. Mahfud MD memaparkan materi hukum dan demokrasi di aula UTM lantai 10 (foto: rusdi)

BANGKALAN – Fakultas Hukum Universitas Trunodjoyo Madura (UTM) menggelar kuliah umum Program Doktor Hukum dan Magister Hukum Jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) dengan tema “Hukum dalam Dinamika Demokrasi di Indonesia dan Tantangan Hukum Pancasila dalam Era Globalisasi dan Digitalisasi”, Jumat (13/2/2026).

Hadir sebagai pembicara utama, Prof. Mahfud MD memberikan dorongan kuat kepada civitas akademika dan para profesional muda untuk memanfaatkan jalur akademik resmi dalam meningkatkan kapasitas diri.

Mahfud menilai UTM memiliki peluang besar untuk menjadi motor penguatan sumber daya manusia, khususnya di Madura.

“Untuk UTM itu peluang bagus untuk memajukan diri dan memperkuat pembinaan dan peningkatan kualitas SDM di Madura,” ujarnya.

Ia secara khusus menyasar para pejabat muda, aparatur, jaksa, hakim, polisi, dan berbagai profesi lainnya agar tidak menyia-nyiakan kesempatan akademik yang tersedia.

“Ini bisa memanfaatkan peluang ini,” tegasnya.

Mahfud juga menyinggung fenomena perburuan gelar kehormatan. Ia mengingatkan agar para profesional tidak tergoda mencari jalur doktor honoris causa maupun guru besar kehormatan hanya demi prestise.

“Jangan mencari jalur doktor honoris causa itu. Doktor honoris causa itu ada nilainya bagi universitas juga. Guru besar kehormatan itu, tidak menguntungkan bagi universitasnya,” katanya.

Menurutnya, guru besar tetap yang berkarier akademik memberi kontribusi berkelanjutan bagi institusi melalui kredit dan karya ilmiah. 

Karena itu, ia mendorong siapa pun yang ingin meraih gelar doktor agar menempuh jalur resmi.

“Kalau itu yang ingin jadi doktor masuk saja ke UTM,” tandasnya.

Mahfud turut mengapresiasi jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) yang diterapkan UTM. Skema ini memungkinkan pengalaman kerja dan capaian profesional diakui sebagai kredit akademik.

“Daripada pakai jalur-jalur yang ingin jadi master juga, pakai jalur rekognisi pembelajaran lampau. Jadi yang mereka juga bekerja di berbagai tempat itu kreditnya diakui, ditransfer,” jelasnya.

Dengan sistem tersebut, mahasiswa berpengalaman bahkan berpeluang langsung masuk di semester lanjut, tergantung rekam jejak dan pengalaman yang dimiliki.

“Itu kan yang bagus dari UTM,” imbuhnya.

Menjawab pertanyaan tentang peran UTM dalam menjawab tantangan hukum, dan demokrasi di era digital, Mahfud menegaskan bahwa kampus bukan lembaga penegak hukum, melainkan pencetak intelektual.

“UTM mencetak intelektual yang kredibel. Kalau langsung tindakan penegakan hukum kan bukan tempatnya di UTM. UTM itu mencetak ilmunya dan wataknya,” tegasnya.

Menurutnya, kekuatan utama perguruan tinggi terletak pada pembentukan otak dan karakter mahasiswa. Ia optimistis dengan kualitas sumber daya manusia yang dimiliki UTM.

“Lingkungannya memungkinkan UTM. Sumber daya manusia ini juga hebat-hebat loh. Yang bisa bersaing secara nasional juga,” pungkasnya.

Rektor UTM, Prof. Safi’ menyampaikan, kuliah umum ini merupakan kesempatan besar bagi mahasiswa yang baru saja menempuh pendidikan ilmu hukum jenjang magister dan doktor.

“Prof. Mahfud MD adalah maha guru, yang juga berkontribusi besar pendirian kampus negeri di Madura ini,” ucapnya. [Rusdi]

Share Artikel

Artikel dilindungi, Semua tulisan dalam media ini sepenuhnya milih pojokmadura.id