Lewat Sekolah Vertical Rescue, UTM Siapkan Mahasiswa Tangguh dan Peduli Kemanusiaan

Sekolah Vertical Rescue Dilaksanakan Mahasiswa Pecinta Alam GHUBATRAS UTM (foto: humas/PM)

Bangkalan (pojokmadura.id)Universitas Trunojoyo Madura (UTM) kembali menegaskan komitmennya dalam membentuk mahasiswa tangguh dan peduli kemanusiaan melalui kegiatan Sekolah Vertical Rescue Tingkat 1, bertema “Challenge the Height, Strengthen the Bone”.

Kegiatan ini digelar oleh Mahasiswa Pecinta Alam (MPA) GHUBATRAS UTM dan diikuti 60 peserta dari berbagai perguruan tinggi, instansi pemerintah, dan lembaga kemanusiaan se-Indonesia.

Acara pembukaan dihadiri oleh sejumlah tokoh, di antaranya Taufani Sagita (Pembina MPA GHUBATRAS), Subhan Fajar Sidik (Dewan Perintis), serta Abraham Firmansyah (Dewan Pembina dan Penasehat Organisasi).

Pelatihan ini menghadirkan empat instruktur utama dari Vertical Rescue Indonesia (VRI): Teddy Ixdiana, Data Pela, Adrian Daely, dan Kamia Rahayu. 

Mereka membagikan pengalaman dan keterampilan penyelamatan di medan vertikal, manajemen risiko, serta pentingnya kerja sama tim dalam operasi kemanusiaan.

“Pelatihan ini bukan sekadar soal fisik, tapi tentang mentalitas dan kepedulian sosial. Setiap tindakan penyelamatan adalah bentuk cinta kepada sesama,” ujar Data Pela, tenaga ahli dari VRI, Minggu (9/10/2025).

Kegiatan ini juga diikuti oleh personel Polairud Polda Jawa Tengah, BPBD Sampang, serta komunitas pecinta alam dari berbagai daerah. 

Salah satunya, Almuhlisin dari BPBD Sampang, mengaku mendapatkan banyak ilmu baru dan jaringan relawan lintas daerah.

“Ilmu dan pengalaman yang saya dapat sangat berharga untuk menunjang tugas penyelamatan di lapangan,” ungkapnya.

Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan UTM, Surokim, S.Sos., S.H., M.Si, menegaskan bahwa pelatihan seperti ini menjadi bentuk nyata pembelajaran holistik di kampus.

“Mahasiswa tidak cukup hanya memahami teori. Mereka juga harus siap terjun di lapangan dan berkontribusi bagi kemanusiaan,” ujarnya.

Taufani Sagita menambahkan, Sekolah Vertical Rescue ini merupakan wujud kolaborasi nyata antara dunia akademik dan praktisi kemanusiaan.

“Ini bukan sekadar pelatihan, tapi proses membentuk karakter tangguh dan jiwa peduli,” katanya.

Program ini juga sejalan dengan semangat Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya dalam aspek pendidikan berkualitas, kesehatan, dan kemitraan untuk tujuan kemanusiaan.

Dengan filosofi “Challenge the Height, Strengthen the Bone”, kegiatan ini menegaskan bahwa keberanian, solidaritas, dan empati adalah fondasi utama dalam setiap misi penyelamatan. [rus/red]

Share Artikel

Artikel dilindungi, Semua tulisan dalam media ini sepenuhnya milih pojokmadura.id