Refleksi 1 Tahun, Petani Tembakau Bangkalan Minta Dukungan Nyata Pemerintah

Diskusi publik refleksi 1 tahun DPC APTI Bangkalan [Foto:aan/PM]
Bangkalan, [pojokmadura.id]– Seiring bertambahnya usia satu tahun Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Bangkalan, para petani menegaskan komitmennya untuk memperkuat peran tembakau sebagai komoditas unggulan daerah.
Refleksi yang digelar dalam bentuk diskusi publik, di salah satu café di Bangkalan, Kamis (21/8/2025), menjadi momentum konsolidasi antara petani, pemerintah, dan legislatif.
Ketua DPC APTI Bangkalan, Muhammad Sugianto, menyampaikan bahwa APTI hadir dari inisiatif murni petani untuk memperjuangkan kepentingan bersama. Menurutnya, forum ini bukan sekadar perayaan ulang tahun, melainkan ruang untuk mengevaluasi perjalanan sekaligus menyatukan langkah ke depan.
“Petani tembakau Bangkalan memiliki potensi besar, tetapi masih membutuhkan dukungan nyata, baik dari sisi kebijakan, infrastruktur, maupun akses pasar. APTI lahir agar suara petani semakin kuat,” tegas Sugianto.
Data yang dipaparkan menunjukkan geliat petani cukup menggembirakan. Luas lahan tembakau yang sebelumnya hanya 15 hektare, kini meningkat menjadi 30 hektare. Kenaikan ini menjadi bukti optimisme sekaligus peluang besar bagi Bangkalan untuk menjadikan tembakau sebagai komoditas strategis.
Diskusi publik yang dihadiri sejumlah kepala dinas, DPRD, hingga akademisi, menghasilkan komitmen bersama untuk memperkuat dukungan terhadap petani.
Ketua Komisi II DPRD Bangkalan, Khotib Marzuki bahkan menegaskan akan turun langsung ke lapangan untuk memastikan kebutuhan petani terpenuhi, terutama infrastruktur dan akses pendukung pertanian.
Sugianto menambahkan, keberhasilan pengembangan tembakau tidak bisa dilepaskan dari sinergi lintas sektor. “Petani tidak bisa jalan sendiri. Dengan adanya dukungan dari pemerintah daerah, legislatif, dan akademisi, kami yakin tembakau Bangkalan akan semakin berdaya saing,” ujarnya.
Refleksi satu tahun APTI Bangkalan akhirnya ditutup dengan kesepakatan memperkuat posisi petani tembakau, bukan hanya sebagai penghasil bahan baku, tetapi juga sebagai subjek penting dalam pembangunan ekonomi daerah.[rusdi]