
Saya sudah menonton episode Bocor Alus Politik Tempo yang membahas jejaring bisnis rokok dan cukai ilegal, termasuk penelusuran mereka di Madura. Saya kira tidak perlu lagi mengulang seluruh isi liputan tersebut. Pembaca yang ingin mengetahui duduk perkaranya dapat menyaksikan sendiri laporan tersebut dan membandingkannya dengan klarifikasi dari pihak-pihak yang disebut. Yang justru menarik bagi saya adalah apa yang terjadi setelahnya: muncul pembelaan terhadap Haji Her, bahkan dari orang-orang yang merasa bahwa pemberitaan tersebut telah menggambarkan sosok yang selama ini mereka kenal secara berbeda. Bagi saya, fenomena ini menarik bukan semata-mata karena substansi tuduhan dalam laporan tersebut, tetapi karena memperlihatkan bagaimana ketokohan seseorang dapat membentuk cara publik menerima sebuah kritik.
Untuk memahami reaksi tersebut, kita perlu melihat terlebih dahulu siapa Haji Her dalam persepsi publik. Khairul Umam alias Haji Her bukan nama yang tiba-tiba muncul setelah pemberitaan Tempo. Ia telah lama dikenal sebagai pengusaha tembakau sekaligus Ketua Paguyuban Pelopor Petani dan Pedagang Tembakau Se-Madura (P4TM).
Dalam sejumlah pemberitaan, ia tampil sebagai figur yang aktif memperjuangkan kepentingan petani tembakau. DetikJatim, misalnya, pernah memberitakan kiprahnya dalam mendorong penyerapan tembakau Madura dan mempertemukan petani dengan pembeli maupun pihak-pihak terkait. Bahkan, pemberitaan mengenai pola perdagangan yang dijalankan melalui P4TM menyebut adanya harga dasar pembelian tembakau sekitar Rp35.000–Rp45.000 per kilogram.
Posisi semacam itu membuat Haji Her tidak sekadar dipersepsikan sebagai seorang pengusaha. Ia kemudian memperoleh identitas sosial sebagai orang yang dianggap memiliki kepentingan terhadap nasib petani.
Dalam pemberitaan lain, misalnya, Haji Her mengajak Kapolres Pamekasan melihat secara langsung proses transaksi tembakau dengan petani, termasuk bagaimana kualitas tembakau diperiksa dan harga ditawar. Gestur semacam ini, terlepas dari bagaimana kita menilainya, ikut membangun citra seorang pengusaha yang ingin memperlihatkan dirinya dekat dengan persoalan petani dan tata niaga tembakau.
Ketokohan itu kemudian diperkuat oleh aktivitas Haji Her di luar persoalan jual beli tembakau. Namanya beberapa kali muncul dalam kegiatan sosial dan keagamaan. Pada 2025, misalnya, ia menjadi tuan rumah buka bersama yang dihadiri ribuan Muslimat NU se-Madura, dengan kehadiran Gus Miftah, penyanyi Charly van Houten, dan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak. Sebelumnya, namanya juga ramai diberitakan setelah Gus Miftah membagikan uang di Pamekasan.
Ada pula dimensi politik yang membuat jejaring sosial Haji Her semakin terlihat. Pada masa Pilpres 2024, Haji Her secara terbuka mendukung Prabowo-Gibran. Ia bahkan bertemu dengan Hashim Djojohadikusumo dan menyampaikan aspirasi mengenai persoalan petani tembakau. Sejumlah pemberitaan saat itu juga menggambarkan aktivitas konsolidasi Haji Her dalam mendukung pasangan tersebut. Bahkan ada pemberitaan yang mengaitkan dukungannya dengan menguatnya dukungan Prabowo-Gibran di kalangan sebagian masyarakat yang menjadi basis petani tembakau. Ini bukan berarti hubungan tersebut harus dibaca secara sederhana sebagai hubungan sebab-akibat, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa Haji Her memiliki jejaring yang melampaui aktivitas bisnisnya.
Menariknya, ketokohan itu tidak berhenti pada dunia tembakau dan politik. Pada penghujung 2025, nama Haji Her kembali menjadi perhatian ketika ia, lewat perusahaan yang dikelolanya (PT. Bawang Mas) memberikan dukungan finansial besar kepada Valen dalam kompetisi Dangdut Academy 7. Haji Her tercatat mengirimkan 15 virtual gift D’Sultan pada fase-fase krusial kompetisi. Valen sendiri akhirnya menjadi juara kedua atau runner-up DA7. Besarnya dukungan tersebut membuat Haji Her kembali tampil dalam pemberitaan sebagai figur yang memiliki kemampuan finansial sekaligus kemauan untuk mendukung figur muda yang sedang naik daun.
Dukungan kepada Valen juga tidak berhenti di layar televisi. Setelah kompetisi berakhir, kepulangan Valen ke Pamekasan disambut melalui konser yang dikaitkan dengan PT Bawang Mas Group. Acara tersebut juga menghasilkan penggalangan dana sekitar Rp1,1 miliar, dengan Haji Her disebut menyumbang Rp500 juta. Lagi-lagi, yang penting bagi tulisan ini bukan untuk menghitung seberapa dermawan seseorang, apalagi menjadikan nominal sumbangan sebagai ukuran moral seseorang. Yang menarik adalah bagaimana rangkaian tindakan tersebut membangun modal kepercayaan. Seorang tokoh yang hadir sebagai pengusaha tembakau, pendukung petani, penyumbang, dan pendukung talenta muda pada akhirnya memperoleh citra yang jauh lebih luas daripada sekadar pemilik bisnis.
Di sinilah kita mulai memahami mengapa sebuah pemberitaan negatif mengenai dirinya dapat menghasilkan respons yang berbeda dari respons terhadap orang yang tidak memiliki modal sosial semacam itu. Publik tidak menerima informasi begitu saja dan secara tiba-tiba. Mereka sudah memiliki pengalaman, cerita, kesan, dan penilaian sebelum sebuah berita datang.
Ketika seseorang selama bertahun-tahun dikenal sebagai orang yang membeli tembakau petani, memberikan bantuan, mendukung kegiatan sosial, atau membantu seorang talenta muda seperti Valen, maka informasi baru mengenai dirinya akan berhadapan dengan seluruh pengalaman tersebut. Karena itu, bagi seseorang yang merasa pernah menerima manfaat dari seorang tokoh, menerima informasi yang menggambarkan tokoh tersebut secara negatif tentu tidak selalu mudah.
Barangkali di sinilah kisah Robin Hood menjadi analogi yang menarik. Dalam legenda Inggris, Robin Hood digambarkan sebagai tokoh yang mengambil harta dari orang-orang kaya untuk kemudian membantu masyarakat miskin. Ia dianggap melawan sistem yang tidak adil, meskipun cara yang ditempuhnya tetap berhadapan dengan hukum.
Bagi orang-orang yang merasa pernah ditolong Robin Hood, sulit bagi mereka untuk seketika melihatnya sebagai sosok yang bersalah. Pola pikir itu terbentuk dari pengalaman menerima manfaat. Dalam konteks ini, pembelaan terhadap seorang tokoh publik juga dapat lahir dari mekanisme yang serupa: kebaikan yang dirasakan secara langsung sering kali menjadi lensa pertama dalam menilai berbagai tuduhan yang diarahkan kepadanya.
Mereka mengenal seseorang melalui akibat yang mereka rasakan. Kalau seseorang membantu petani memperoleh pasar, membantu kegiatan sosial, mendukung anak muda yang sedang berjuang, atau memberikan bantuan kepada masyarakat, maka bagi penerima manfaat, sosok tersebut hadir sebagai seorang penolong. Ketika kemudian datang informasi yang menempatkannya dalam posisi problematis, dalam hal ini rokok ilegal, informasi itu harus berhadapan terlebih dahulu dengan pengalaman positif yang sudah terlanjur mengakar.
Karena itu, saya dapat memahami mengapa sebagian orang kemudian merasa perlu membela Haji Her setelah liputan Tempo muncul. Tetapi memahami pembelaan tidak sama dengan mengatakan bahwa pembelaan tersebut pasti benar. Di sinilah kita perlu membedakan persepsi manfaat dengan pembuktian fakta. Bahwa seseorang telah memberikan manfaat kepada masyarakat adalah satu persoalan. Apakah seseorang melakukan atau tidak melakukan pelanggaran hukum adalah persoalan lain. Keduanya tidak otomatis saling membatalkan. Seseorang dapat memiliki kontribusi sosial yang nyata dan tetap dapat diperiksa jika ada dugaan pelanggaran. Sebaliknya, sebuah pemberitaan yang memuat dugaan tertentu juga tidak otomatis menghapus seluruh kontribusi sosial yang pernah dilakukan seseorang.
Maka, saya kira kritik terhadap laporan Tempo sebenarnya sah-sah saja. Bahkan penting. Tetapi kritik yang kuat semestinya diarahkan kepada isi laporan, bukan sekadar kepada medianya. Tempo dalam episode tersebut menyebut melakukan penelusuran melalui pembelian sampel, wawancara, pemeriksaan laboratorium, serta konfirmasi kepada pihak-pihak terkait. Laporan itu juga menyebut sejumlah nama dalam konteks yang berbeda-beda, sementara pihak yang disebut memberikan bantahan atau tidak memberikan tanggapan. Artinya, publik berhak memeriksa apakah metode, sumber, konteks, dan kesimpulan yang digunakan Tempo sudah tepat. Jika ada bagian yang keliru, tunjukkan bagian yang keliru. Jika ada data yang tidak lengkap, hadirkan data yang melengkapinya.
Begitu pula pihak yang membela Haji Her sebenarnya memiliki ruang yang sangat luas untuk menghadirkan wacana tanding. Misalnya, mereka dapat menunjukkan data mengenai kontribusi Haji Her terhadap petani: berapa banyak tembakau yang diserap, berapa petani yang menjadi mitra, berapa tenaga kerja yang terlibat, bagaimana harga pembelian dibandingkan mekanisme pasar lainnya, dan bagaimana dampaknya terhadap pendapatan petani. Jika ada tuduhan yang dianggap keliru, bantah dengan dokumen. Jika ada nama atau perusahaan yang dikaitkan secara tidak tepat, jelaskan struktur kepemilikannya. Jika ada kesimpulan yang tidak sesuai fakta, hadirkan fakta pembanding. Dengan begitu, pembelaan terhadap Haji Her justru menjadi jauh lebih kuat.
Sehingga bagi saya selama melihat perkmbangan polemik ini, yang menarik bukan hanya soal Haji Her dan Tempo, melainkan tentang bagaimana ketokohan membentuk cara kita menerima informasi. Ketika telah memperoleh kepercayaan karena dianggap membantu banyak orang, kritik terhadapnya tidak pernah datang kepada publik yang benar-benar netral. Kritik itu akan bertemu dengan pengalaman, ingatan, dan rasa terima kasih orang-orang yang merasa pernah menerima manfaat. Itu manusiawi. Tetapi ruang publik membutuhkan satu langkah tambahan setelah rasa terima kasih tersebut: kemampuan untuk tetap bertanya. Kita boleh menghargai jasa seseorang tanpa harus menutup mata terhadap pertanyaan. Kita boleh mengkritik media tanpa harus menolak seluruh kerja jurnalistiknya.
Karena itu, jika memang ada yang merasa liputan Tempo keliru, tidak perlu menunjukkan urat leher, tidak perlu memandang Tempo dengan sinis, dan tidak perlu mengubah kritik terhadap seorang tokoh menjadi pertengkaran emosional. Hadirkan saja wacana tanding. Bicara tentang petani. Bicara tentang harga tembakau. Bicara tentang struktur industri. Bicara tentang cukai. Bicara tentang kontribusi Haji Her yang dapat diukur. Bantah data dengan data, narasi dengan narasi, dan dugaan dengan bukti. Sebab pada akhirnya, membela seorang tokoh dengan kemarahan mungkin hanya menunjukkan besarnya loyalitas kita kepadanya. Tetapi membelanya dengan fakta menunjukkan bahwa kita benar-benar serius terhadap kebenaran.
*Penulis: Aqil Husein Almanur (Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAINAS Sumenep)
Leave a Reply