Press ESC to close

Pojok MaduraPojok Madura

Hari Batik Nasional, Siswa An Nawari Belajar Membatik di Sentra Al-Barokah Sumenep

UMENEP, Pojokmadura.id — Puluhan siswa MTs-MA An Nawari menghabiskan Hari Batik Nasional dengan cara berbeda. Pada Jumat, 2 Oktober 2026, mereka mengunjungi Sentra Batik Al-Barokah di Desa Pekandangan Tengah, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep, untuk mengenal batik lebih dekat.‎‎

Kunjungan yang digelar Organisasi Siswa Intra Madrasah (OSIM) MTs-MA An Nawari itu tidak hanya mengenalkan batik sebagai pakaian. Para siswa mendapat penjelasan mengenai sejarah, jenis, proses pembuatan, hingga cara merawat kain batik.‎‎

Owner Sentra Batik Al-Barokah, Taufan Febrianto, mendorong para siswa tidak berhenti sebagai pengguna batik. Menurut dia, generasi muda perlu memiliki keberanian untuk mempelajari sekaligus mengembangkan usaha batik.‎‎

“Kami berharap siswa-siswi An Nawari mendapatkan pengalaman dan pengetahuan tentang batik. Mudah-mudahan nantinya ada yang bisa membuat batik sendiri, bahkan menjadi juragan batik,” ujar Taufan.‎‎

Dalam kunjungan itu, siswa diperkenalkan pada sejumlah teknik pembuatan batik, mulai dari batik tulis, batik cetak hingga batik printing.‎‎Untuk batik tulis, mereka mempelajari tahapan pembuatan motif, rengrengan, penulisan menggunakan lilin, pembuatan guratan atau oretan, pengeblokan, pewarnaan, pengecekan hingga pelorotan lilin menggunakan air panas.

‎‎Pengetahuan tentang perawatan batik juga diberikan. Siswa diingatkan menggunakan bahan pencuci yang lembut dan tidak menjemur kain batik langsung di bawah terik matahari agar kualitas kain tetap terjaga.‎‎

Setelah mengikuti pemaparan, para siswa melihat koleksi batik yang ada di Sentra Batik Al-Barokah. Mereka juga diberi kesempatan mencoba proses pembuatan batik secara langsung.‎‎

Batik Printing dan Ancaman bagi Batik Tradisional‎‎Sesi tanya jawab menjadi bagian yang menarik perhatian siswa. Kanza, Ketua OSIM MA An Nawari, mempertanyakan semakin luasnya penggunaan batik printing di masyarakat.

‎‎Ia menanyakan kemungkinan tergerusnya identitas dan keunikan batik tradisional jika masyarakat semakin memilih produk printing.‎‎

Nauval menjelaskan, menurunnya minat terhadap batik tradisional dapat berdampak pada keberlangsungan pembuatannya. Berkurangnya peminat, kata dia, berpotensi membuat generasi berikutnya tidak lagi tertarik meneruskan keterampilan membatik secara tradisional.‎‎

Kanza mengatakan kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti pada pengenalan batik sebagai pakaian atau motif.‎‎

“Generasi muda tidak hanya mengenal batik sebagai pakaian atau motif, tetapi juga memahami proses, nilai budaya, serta pentingnya menjaga dan melestarikan batik sebagai warisan budaya Indonesia,”

katanya.‎‎Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang bagi para siswa untuk melihat secara langsung proses dan nilai di balik selembar kain batik. [LA]

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *