
BANGKALAN – Keselamatan pasien menjadi salah satu kunci utama dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Untuk mewujudkannya, tenaga kesehatan tidak hanya dituntut memiliki kemampuan medis yang baik, tetapi juga harus mampu berkomunikasi, bekerja sama, dan menjaga kondisi psikologis.
Hal tersebut menjadi pembahasan dalam Seminar Kesehatan yang digelar dalam rangka Hari Kesehatan di Gedung Pertemuan R.P. Muhammad Noer, Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Minggu (8/11/2026).
Mengangkat tema Sinergi Interprofesi Tenaga Kesehatan dalam Mewujudkan Pelayanan Kesehatan yang Terintegrasi, Efektif, dan Berorientasi pada Keselamatan Pasien, seminar ini menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai bidang keahlian.
Salah satu narasumber, Andiani, dosen Fakultas Kedokteran UTM, menegaskan bahwa keselamatan pasien harus menjadi perhatian dalam setiap tahapan pelayanan kesehatan.
Menurutnya, tenaga kesehatan perlu memiliki pengetahuan yang benar, keterampilan yang tepat, dan mampu menerapkannya melalui tindakan yang aman. Prinsip tersebut dikenal dengan konsep right knowledge, right skill, right action.
Ia juga mengingatkan bahwa setiap insiden keselamatan pasien tidak boleh hanya dilihat sebagai kesalahan individu. Evaluasi harus dilakukan secara menyeluruh, termasuk terhadap sistem kerja, komunikasi, teknologi, dan lingkungan pelayanan.
“Jangan berhenti pada pertanyaan siapa yang salah. Kita harus melihat lebih jauh bagaimana sistem, proses kerja, komunikasi, teknologi, dan kondisi lingkungan pelayanan turut memengaruhi terjadinya kesalahan,” jelasnya.
Andiani menambahkan, setiap kejadian yang membahayakan pasien harus menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki pelayanan, bukan sekadar mencari pihak yang disalahkan.
Ia turut memaparkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyebutkan sekitar satu dari 10 pasien mengalami dampak merugikan selama mendapatkan pelayanan kesehatan. Bahkan, sedikitnya separuh kejadian tersebut diperkirakan dapat dicegah.
Data itu menunjukkan bahwa keselamatan pasien membutuhkan perhatian serius dari seluruh unsur pelayanan kesehatan.
Selain sistem dan kompetensi tenaga medis, seminar tersebut juga membahas pentingnya menjaga kesehatan psikologis tenaga kesehatan.
Nailur Rohmah, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya UTM, dalam materinya mengulas manajemen stres dan kesejahteraan psikologis tenaga kesehatan.
Ia mengajak peserta lebih peka terhadap kondisi diri, terutama saat mengalami kelelahan fisik maupun tekanan pekerjaan. Sebab, beban kerja yang tidak dikelola dengan baik dapat memengaruhi konsentrasi dan kualitas pelayanan.
Nailur menjelaskan bahwa stres tidak selalu berdampak buruk. Ada yang disebut eustress, yakni tekanan yang dianggap sebagai tantangan dan masih mampu dihadapi. Sebaliknya, distress merupakan tekanan yang dirasakan sudah melampaui kemampuan seseorang.
“Kuncinya bukan sekadar seberapa besar tekanan yang dihadapi, tetapi bagaimana seseorang menilai tuntutan tersebut dan bagaimana sumber daya yang dimilikinya untuk menghadapinya,” urainya.
Sementara itu, Ketua DPD Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kabupaten Bangkalan, Agus Salim Burhanudin, menyoroti pentingnya komunikasi efektif dalam pelayanan kesehatan.
Menurutnya, komunikasi menjadi fondasi utama dalam menjaga keselamatan pasien karena pelayanan kesehatan melibatkan berbagai profesi dengan tugas dan tanggung jawab berbeda.
Kesalahan komunikasi dapat menyebabkan informasi penting tidak tersampaikan dengan baik, menimbulkan perbedaan pemahaman, hingga berpotensi memengaruhi keputusan medis.
Karena itu, setiap tenaga kesehatan harus mampu menyampaikan informasi secara jelas, tepat, dan terstruktur. Koordinasi juga diperlukan agar kondisi pasien, instruksi medis, dan tindak lanjut pelayanan dapat dipahami oleh seluruh anggota tim.
Melalui seminar ini, para narasumber menegaskan bahwa keselamatan pasien tidak hanya bergantung pada kemampuan individu tenaga kesehatan. Perbaikan sistem pelayanan, komunikasi yang efektif, kolaborasi antarprofesi, serta kesehatan psikologis tenaga medis harus berjalan beriringan.
Dengan demikian, pelayanan kesehatan yang aman dan berkualitas dapat terwujud melalui kerja sama seluruh tenaga kesehatan dengan tetap mengutamakan keselamatan pasien.
Leave a Reply