Tak Layak untuk Belajar, SDN Tlomar 2 Bangkalan Mirip Kandang Ternak
Siswa kelas 3 dan kelas 5 SDN Tlomar 2 Kecamatan Tanah Merah, Kabupaten Bangkalan dihadapkan dengan meja kelas berdebu, dan lantai kelas beralas tanah (foto: TribunMadura.com)
BANGKALAN- Di tengah gencarnya berbagai program peningkatan kualitas pendidikan, masih ada sekolah yang bertahan dengan kondisi jauh dari kata layak.
Pemandangan itu tampak di SD Negeri (SDN) Tlomar 2, Kecamatan Tanah Merah, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur.
Sudah lebih dari satu dekade, puluhan siswa di sekolah tersebut harus mengikuti kegiatan belajar mengajar di ruang kelas yang berlantaikan tanah liat bercampur kerikil.
Tidak hanya itu, bangunan sekolah yang mulai rapuh membuat aktivitas belajar setiap hari dibayangi rasa khawatir.
Dari tiga ruang kelas yang dimiliki, satu ruangan kini sudah tidak dapat digunakan karena mengalami kerusakan parah dan dinilai membahayakan keselamatan.
Akibatnya, proses belajar mengajar dipusatkan di dua ruang yang tersisa dengan sekat sederhana berbahan triplek untuk membagi beberapa rombongan belajar.
Kondisi bangunan pun memprihatinkan. Kusen pintu dan jendela telah lapuk dimakan usia, sementara sejumlah bagian plafon berlubang dan berpotensi runtuh sewaktu-waktu.
Di dalam kelas, papan tulis hanya disandarkan di atas lantai tanah, sedangkan meja dan kursi belajar banyak yang sudah rusak hingga harus diperbaiki secara swadaya oleh para guru agar tetap bisa digunakan.
Warga sekitar bahkan menyebut kondisi gedung sekolah itu lebih menyerupai kandang ternak dari pada tempat anak-anak menimba ilmu. Gambaran tersebut menjadi potret nyata masih adanya ketimpangan fasilitas pendidikan di daerah.
Keterbatasan sarana juga berdampak pada jumlah peserta didik. Banyak orang tua memilih memindahkan anaknya ke sekolah lain yang dinilai memiliki fasilitas lebih layak.
Kini, SDN Tlomar 2 hanya memiliki sekitar 50 siswa, dengan setiap kelas rata-rata diisi tujuh hingga sepuluh murid.
“Belajar di sini enggak enak, kadang di meja-meja banyak debunya dan kotor. Lantainya juga cuma dari tanah dan batu-batuan, jadi enggak nyaman buat belajar karena fasilitasnya begini. Keinginan saya, pengen sekolah ini cepat dibangun pemerintah agar kami bisa belajar dengan nyaman,” ujar salah satu siswi, Zaenab Rosyada.
Pihak sekolah mengungkapkan, kondisi tersebut telah berlangsung lebih dari 10 tahun. Selama itu pula berbagai usulan rehabilitasi telah diajukan kepada pemerintah daerah.
Namun hingga kini, perbaikan belum juga terealisasi karena terkendala persoalan administratif.
Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Kabupaten Bangkalan, Ali Yusri Purwanto, menyatakan bahwa pemerintah daerah sebenarnya telah memberikan perhatian terhadap SDN Tlomar 2 jauh sebelum kondisi sekolah itu menjadi sorotan publik.
“Sudah di usulkan dalam program revitalisasi tahun 2026. Usulan itu sudah saya ajukan sekitar dua bulan lalu, jadi sebelum viral memang sudah menjadi atensi kami,” katanya. [Rusdi]