Press ESC to close

Pojok MaduraPojok Madura

STAINAS Hadirkan Staf Khusus Menteri Agama, Bahas Arah Perguruan Tinggi Berbasis Pesantren

Sumenep, pojokmadura.id – Sekolah Tinggi Agama Islam Nasy’atul Muta’allimin (STAINAS) menggelar kuliah umum bertema “Pengembangan Perguruan Tinggi Islam Berbasis Pesantren” dengan menghadirkan Dr. Farid F. Saenong, M.A., Ph.D., Koordinator Staf Khusus Menteri Agama Republik Indonesia, sebagai narasumber. Kamis, (10/9/2026)

Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi STAINAS untuk membicarakan masa depan perguruan tinggi Islam yang tumbuh dan berkembang dari lingkungan pesantren. Kuliah umum diikuti oleh civitas akademika STAINAS serta dihadiri Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumenep H. Abdul Wasid, M.Pd.I., Pengasuh Pondok Pesantren Nasy’atul Muta’allimin K.H. Dardiri Zubairi, Ketua STAINAS Anas Mushthofa, S.T., M.Pd., dosen, mahasiswa, yayasan, dan sejumlah perwakilan lembaga pendidikan di lingkungan Nasy’atul Muta’allimin.

Dalam materinya, Farid menekankan bahwa pesantren tidak semestinya dipandang sebagai lembaga pendidikan yang tertinggal. Menurutnya, pesantren justru memiliki tradisi intelektual, sejarah panjang, serta kekuatan kultural yang dapat menjadi modal penting dalam membangun perguruan tinggi.

Ia kemudian mengajak peserta melihat kembali sejarah perkembangan pendidikan tinggi di Barat. Farid mencontohkan Harvard University yang memiliki akar sejarah dari tradisi pendidikan keagamaan Kristen. Menurutnya, fakta tersebut memperlihatkan bahwa lembaga pendidikan yang berangkat dari tradisi keagamaan tetap memiliki peluang untuk berkembang menjadi pusat pendidikan dan pengetahuan yang berpengaruh.

Dalam konteks Indonesia, Farid melihat pesantren memiliki modal yang tidak kalah kuat. Salah satunya adalah tradisi kedisiplinan dan pembentukan karakter yang telah berlangsung dalam kehidupan pesantren. Pendidikan pesantren, kata dia, tidak berhenti pada transfer pengetahuan agama, tetapi juga membentuk mental, sikap, dan karakter peserta didik melalui kehidupan yang disiplin.

Modal tersebut, menurut Farid, dapat menjadi kekuatan tersendiri bagi perguruan tinggi Islam yang lahir dari lingkungan pesantren. Karena itu, ia mendorong pesantren untuk membangun keyakinan bahwa perguruan tinggi berbasis pesantren memiliki masa depan yang besar.

Farid juga mengajak peserta membayangkan kembali sejarah pendidikan Indonesia. Ia menyinggung kemungkinan berbeda yang mungkin terjadi apabila Indonesia tidak mengalami kolonialisme Belanda. Pusat-pusat pendidikan dan peradaban, menurutnya, sangat mungkin tumbuh dari pesantren yang sejak lama menjadi tempat masyarakat belajar dan mengembangkan pengetahuan.

Pesantren-pesantren besar di Jombang, Tambakberas, dan berbagai daerah lain, lanjut Farid, menunjukkan adanya potensi tersebut. Pesantren memiliki tradisi pendidikan, sumber daya manusia, serta modal sosial yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan dalam membangun perguruan tinggi sekaligus pusat peradaban.

Karena itu, Farid mengingatkan agar perguruan tinggi yang lahir dari pesantren tidak merasa inferior ketika berhadapan dengan perguruan tinggi lain. Tantangannya justru bagaimana kekuatan khas pesantren tersebut diterjemahkan menjadi identitas dan keunggulan perguruan tinggi.

Salah satu hal yang ditekankan adalah pentingnya distingsi bagi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS). Farid menilai PTKIS tidak harus berusaha menjadi sama dengan perguruan tinggi lainnya. Sebaliknya, masing-masing kampus perlu menemukan kekhasan yang berangkat dari karakter institusi dan kebutuhan masyarakat di sekitarnya.

Menurutnya, kekhasan tersebut bahkan tidak harus bersifat besar atau berskala nasional. Distingsi yang sangat lokal pun dapat menjadi kekuatan apabila dikembangkan secara serius dan mampu menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat.

Farid juga mengingatkan bahwa keberhasilan perguruan tinggi tidak semata-mata ditentukan oleh capaian akademik atau sejauh mana kampus mampu mengikuti perbincangan isu global. Perguruan tinggi perlu mengukur sejauh mana keberadaan institusi dan lulusannya memberikan dampak langsung bagi kehidupan masyarakat.

“Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa berdampak terhadap masyarakat. Output kita, lulusan kita, dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas, khususnya masyarakat akar rumput,” ujar Farid.

Usai pemaparan, kegiatan dilanjutkan dengan dialog bersama peserta. Sejumlah mahasiswa menyampaikan pertanyaan mengenai pengembangan perguruan tinggi Islam berbasis pesantren, termasuk tantangan PTKIS dalam meningkatkan mutu dan daya saing.

Dalam sesi tersebut, Ketua STAINAS Anas Mushthofa juga menanyakan kemungkinan Farid terlibat sebagai fasilitator dalam membantu STAINAS menentukan arah dan target pengembangan kampus ke depan.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Farid mengatakan bahwa langkah pertama yang perlu dilakukan adalah melakukan identifikasi secara mendalam terhadap kondisi dan kebutuhan STAINAS. Proses tersebut diperlukan untuk memetakan berbagai persoalan, potensi, kebutuhan, serta target yang ingin dicapai.

Menurut Farid, pendampingan dan perumusan arah pengembangan tidak dapat dilakukan secara instan. Diperlukan proses identifikasi dan pendalaman agar strategi yang disusun benar-benar sesuai dengan karakter STAINAS sebagai perguruan tinggi yang tumbuh dari lingkungan pesantren.

Dengan proses tersebut, STAINAS diharapkan dapat merumuskan arah pengembangan yang lebih terukur sekaligus membangun distingsi yang kuat, relevan dengan kebutuhan masyarakat, dan berakar pada tradisi pesantren. [FN].

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *