Filosofi Tajhin Sora, Tradisi Muharram yang Mengajarkan Kebersamaan di Bangkalan
Tajhin Sora khas Bangkalan saat bulan muharram tiba (foto: Kompas.com)
BANGKALAN – Datangnya bulan Muharram tak hanya menandai pergantian Tahun Baru Islam bagi masyarakat Kabupaten Bangkalan.
Di berbagai kampung, aroma gurih Tajhin Sora mulai tercium dari dapur-dapur warga sebagai pertanda tradisi berbagi yang telah diwariskan turun-temurun masih terus dijaga.
Tajhin Sora atau Bubur Suro merupakan hidangan khas yang hanya dimasak saat bulan Muharram. Setelah matang, bubur tersebut dibagikan kepada tetangga sebagai simbol kebersamaan, kepedulian, dan rasa syukur.
Sejarawan Bangkalan, Hidrochin Sabarudin, mengatakan masyarakat Madura, khususnya di Bangkalan, juga mengenal Tajhin Sora dengan sebutan tajhin peddis atau bubur pedas.
“Tradisi ini sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu dan menjadi bagian dari budaya masyarakat Bangkalan setiap memasuki bulan Muharram,” ujarnya.
Menurut Hidrochin, filosofi Tajhin Sora bukan sekadar makanan tradisional, melainkan sarana mempererat hubungan sosial antarwarga.
“Karena tajhin atau bubur ini berasal dari bahan yang padat kemudian diolah menjadi makanan yang lebih cair sehingga bisa dibagikan kepada lebih banyak tetangga. Itu melambangkan kebersamaan dan pemerataan,” katanya.
Semangat gotong royong juga tercermin dalam proses pembuatannya. Warga biasanya memasak secara bersama-sama karena membutuhkan waktu cukup lama.
Beras yang telah dicuci terlebih dahulu direndam sekitar dua jam sebelum dimasak hingga teksturnya lembut. Selanjutnya, bubur dimasak bersama santan, daging, dan berbagai rempah hingga menghasilkan cita rasa gurih yang khas.
Saat disajikan, Tajhin Sora dilengkapi taburan kacang goreng, irisan telur dadar, seledri, acar, dan potongan cabai merah yang semakin memperkaya rasanya.
Di tengah derasnya arus modernisasi, tradisi berbagi Tajhin Sora tetap bertahan sebagai warisan budaya yang mengajarkan pentingnya berbagi rezeki, mempererat silaturahmi, dan menjaga nilai gotong royong di tengah masyarakat Bangkalan. [red/Kompas.com)